Monday, July 24, 2017

Ringkasan Buku Alkitab : Wahyu Kepada Yohanes



Nama               : SURIYAH S
N I M              : 01041504
Sekolah           : STT Lintas Budaya
Mata Kuliah    :
Dosen              :  
Tugas              : Meringkas Buku Wahyu Kepada Yohanes
                       

1.      Pendewaan Kaisar Romawi di Asia-Kecil pada waktu Wahyu Yohanes ditulis
Kini haruslah kita mencoba menetapkan lebih dahulu kapan tepatnya ditulis Kitab Wahyu. Kebanyakan ahli-ahli berpendapat bahwa kitab itu ditulis antara thn. 90 dan thn. 96 sesudah Kristus. Dalam Kitab Wahyu sendiri tidak ada disebutkan suatu tahun; tetapi Bapa Gereja Irenaeus, yang hidup kira-kira 60 tahun sesudah Kitab Wahyu ditulis, dan yang berasal sendiri dari Asia-Kecil, memberi kesaksian: Yohanes telah melihat penglihatan-penglihatannya di Pulau Patmos menjelang akhir pemerintahan Domitianus (seorang kaisar Romawi, yang memerintah dari thn. 81 sampai thn. 96 sesudah Kristus). Penulis-penulis dari gereja kuno, yang hidup sesudah Irenaeus kebanyakan memberi pendapat yang sama (misalnya Hippolitus, Victorinus dan Hieronimus); hanya jarang kita temukan suatu pendapat lain dalam gereja kuno. Keadaan pada waktu tahun-tahun penghabisan dari pemerintahan Kaisar Domitianus adalah sangat bersesuaian dengan isi Wahyu Yohanes. Justru pada waktu itu pertikaian antara gereja Kristen dan pendewaan kaisar menjadi lebih berbahaya.
Setiap orang dapat memahami bahwa di sini terletak suatu kesulitan besar bagi orang-orang Kristen. Untuk orang kafir itu adalah gampang untuk menambahkan suatu dewa baru kepada allah-allah mereka yang banyak itu, yakni sang kaisar. Untuk orang-orang Kristen, yang tahu bahwa hanya ada satu Allah, adalah tidak mungkin untuk menyebutkan seorang manusia itu dewa. Mereka tidak dapat tidak harus menolak hal ini. Dan justru karena hal ini mengenai sang kaisar, maka penolakan itu dapat ditafsirkan secara yang mengerikan: sebagai pemberontakan terhadap pemerintah.  Orang-orang Yahudi, mengenai pendewaan kaisar, berada dalam suatu kedudukan yang jauh lebih baik. Karena imannya mereka juga tidak dapat turut serta dalam penyembahan ini, tetapi mereka secara resmi dibebaskan daripadanya. Orang-orang Yahudi merupakan suatu persekutuan besar yang terdapat di mana-mana dalam kekaisaran Romawi, mereka merupakan kira-kira 6 persen dari penduduk kekaisaran Romawi; pada abad pertama mereka adalah jauh lebih banyak daripada orang-orang Kristen. Agama mereka dipandang sebagai religio licita, yaitu agama yang diizinkan, oleh orang-orang Romawi.
Orang-orang Romawi mengabulkan bahwa mereka (orang-orang Yahudi itu) hanya menyembah satu Allah. Orang-orang Romawi sudah puas secara resmi, kalau orang-orang Yahudi itu berdoa untuk keselamatan sang kaisar. Orang-orang Kristen, yang merupakan suatu golongan yang lebih kecil dan kurang terkenal daripada orang-orang Yahudi, berada di luar peraturan ini. Ada dua bahaya yang mengancam mereka, kalau mereka tidak menyembah sang kaisar: bahaya mendapat murka pemerintah dan bahaya mendapat marah dari penduduk kafir, yang (sebagaimana dikatakan di atas) justru di propinsi Asia rajin melakukan pendewaan kaisar. Harus diakui bahwa pada zaman Domitianus belum dapat orang berbicara tentang penghambatan secara sistematis terhadap orang-orang Kristen, seperti kadang-kadang terjadi di bawah pemerintahan para kaisar yang kemudian (di mana orang-orang Kristen itu kadang-kadang diburu dan ditangkap, dan satu per satu disuruh memilih apakah ia bersedia mempersembahkan ukupan kepada kaisar atau mati). Tetapi Yohanes sebagai nabi telah melihat apa yang akan terjadi: pertikaian yang semakin tajam antara agama Kristen dan kekaisaran Romawi.
Hal inilah yang jelas merupakan latar belakang Kitab Wahyu. Dalam pasal 11 sampai dengan pasal 20 berkali-kali disebutkan "orang-orang yang menyembah binatang dan patungnya itu". Yang dimaksud dengan "binatang" itu pastilah kaisar Romawi yang diperilah itu; penyembahan sang kaisar memang seringkali terjadi melalui patungnya. "Orang-orang penakut" dalam 21:8 tentulah terutama orang-orang yang tidak berani melepaskan diri dari penyembahan sang kaisar dan patungnya itu. Pertanyaan lain ialah apakah yang orang sebutkan "binatang" itu dalam Kitab Wahyu hanya berkenaan dengan kaisar Romawi atau dapatkah juga dikenakan kepada gejala-gejala lainnya dalam sejarah?


2.      Dengan metode mana harus ditafsirkan Wahyu Yohanes?
Dalam seratus tahun terakhir ada muncul suatu perubahan besar dalam cara menerangkan Kitab Wahyu. Tadinya berabad-abad lama- nya dipergunakan orang apa yang seringkali orang sebut dengan istilah Jerman "tafsiran kirchengeschichtlich". Diterjemahkan secara harfiah, ini adalah: tafsiran yang berhubungan dengan sejarah gereja.
Dengan cara penafsiran ini orang melihat dalam Kitab Wahyu suatu ramalan yang saksama mengenai berhagai masa dan tokoh dari sejarah gereja. Misalnya banyak penafsir Protestan dari masa kira-kira thn. 1700 berpendapat bahwa binatang yang menuntut penyembahan, dalam pasal 13, adalah suatu ramalan mengenai Paus Katolik Roma.
J.A. Bengel, ahli teologi yang terkenal itu, yang menulis dalam thn. 1773 suatu tafsiran mengenai Perjanjian Baru, berpendapat bahwa malaikat dengan Injil yang kekal dalam 14:6 itu adalah Pendeta Spener (pendiri Pietisme Jerman). Untuk celaka yang pertama dari 9:12 Bengel berpendapat bahwa ini berarti masa dari thn. 510 sampai thn. 589 Masehi. Dengan menghitung terus seperti itu Bengel, berdasarkan Kitab Wahyu, berani mengharapkan hari kiamat pada thn. 1936.
Metode penafsiran ini sudah ditemukan orang juga dalam suatu tafsiran yang terkenal dalam Abad Pertengahan dari tangan Nikolas dari Lyra (± thn. 1300), yang berangggapan bahwa Kerajaan seribu tahun mulai dengan Franciscus dari Assisi. Juga dalam tafsirantafsiran yang lebih tua lagi sudah ada metode ini. Suatu alasan yang kuat yang menentang metode penafsiran ini ialah bahwa setiap penafsir melakukannya dengan cara lain lagi. Tidak pernah orang mendapat kepastian. Nikolas dari Lyra menyangka dapat membaca dari Kitab Wahyu bahwa "kerajaan seribu tahun" mulai kira-kira thn. 1200, dan Bengel bahwa itu mulai di tahun 1836. Adalah masuk diakal bahwa Luther yang dalam zamannya melihat banyak dipergunakannya Kitab Wahyu dengan cara semacam itu, berkata: "setiap orang membuat dari kitab ini apa yang ia kehendaki".
Memang, apabila orang mau membaca dalam kitab ini ramalan-ramalan saksama tentang berbagai kejadian, masa dan tokoh dari sejarah gereja, maka setiap orang dapat membuat daripadanya apa yang ia kehendaki. Yang satu akan melihat dalam hal binatang dari Wahyu 13 itu Paus, yang lain Napoleon, yang lain lagi Stalin, dst. Yang satu akan melihat dalam kedua saksi dari pasal 11 itu Luther dan Calvin, yang lain lagi tokoh-tokoh yang lain benar-benar dari sejarah gereja. Padahal kitab-kitab lainnya dalam Alkitab toh justru secara mencolok mempunyai sifat untuk berbicara dengan jelas dan tidak tedeng aling-aling.
Itulah sebabnya metode penafsiran yang tersebut di atas, walaupun adalah seringkali orang-orang saleh yang mempergunakannya, makin lama makin ditinggalkan. Dengan berbagai cara dalam seratus tahun terakhir ada dicoba orang untuk mendapat pandangan lain tentang Kitab Wahyu. Kita sebutkan dua cara: 1. Orang memperhatikan hubungan-hubungan yang mungkin ada antara Kitab Wahyu dengan kejadian-kejadian dari zaman Yohanes sendiri. Sebenarnya sudah ada yang mulai dahulu de- ngan ini, misalnya Alcazar dan Hugo Grotius, kira-kira thn. 1600; tetapi dalam seratus tahun terakhir sudah banyak kali dilakukan orang. Telah menjadi pendapat dari kebanyakan para ahli tafsir, bahwa dengan bintang dalam pasal 13 itu dimaksudkan para kaisar Romawi dari zaman Yohanes, dan Babel dalam pasal 17 itu adalah kota Roma dari zaman Yohanes. Juga sudah hampir pasti bahwa yang dimaksudkan dalam pasal Il dengan "pelataran Bait Suci yang telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain" itu ialah perusak-binasaan bait suci di Yerusalem, yang Yohanes alami dalam thn. 70 Masehi. Para ahli seperti E. Gelin, P. Touilleux dan S. Giet (ketiganya menulis dalam bahasa Perancis) sangat jauh melangkah dalam meletakkan hubungan-hubungan antara bagian-bagian dari Kitab Wahyu dan kejadian-kejadian tertentu dari zaman Yohanes; barangkali mereka sudah melangkah terlalu jauh. Misalnya S. Giet menyangka menemukan dalam pasal 8 sampai pasal Il suatu pelukisan tingkat-tingkat perang orang-orang Yahudi melawan orang-orang Romawi (thn. 66 — thn. 70 Masehi).
Ahli-ahli lainnya menyangka mengenai berbagai radisi dalam penglihatan-penglihatan yang telah dilihat Yohanes. H. Gunk-el menyangka menemukan tradisi-tradisi Babel dalam penglihatan- penglihatan itu, F. Boll tradisi-tradisi astrologis Helenistis, W. Bousset tradisi-tradisi dari Iran, dan E. Lohmeyer tradisi-tradisi yang juga disimpan oleh aliran Mandei, semacam aliran gnostik. Sebenarnya adalah mungkin bahwa Allah mempergunakan tradisi-tradisi dari luar Alkitab dan memberi isi baru kepadanya, tepat seperti pohon Natal di pesta Natal adalah sebenarnya tradisi kafir, yang telah mendapat isi Kristen. Tetapi di waktu yang akhir-akhir ini orang sudah mulai menginsafi bahwa ahli-ahli yang tersebut di atas itu, karena didorong oleh kerajinan mereka untuk mencari tradisi tua, seringkali sudah keterlaluan dan menyebutkan tradisi-tradisi, yang hubungannya dengan Kitab Wahyu tidak dapat dibuktikan.
Jadi Kitab Wahyu adalah sejalan sama sekali dengan para nabi PL, yang mengucapkan Firman Allah, dengan penerapannya kepada zaman mereka sendiri. Berhubung dengan itu, menurut hemat kami, metode yang tepat untuk penafsiran Kitab Wahyu ialah: menafsirkan Kitab Wahyu dengan cara yang sama seperti kita menafsirkan kitab-kitab para nabi dalam PL. Itu berarti bahwa kalau para nabi berbicara tentang raja Babel yang congkak, yang akan binasa, maka haruslah kita menyadari bahwa ini memang suatu perkataan yang cocok untuk zaman mereka sendiri, tetapi bahwa raja Babel dapat muncul kembali dalam diri raja-raja lain. Justru Kitab Wahyu menunjuk kepada hal semacam itu, yakni digenapkannya kembali nubuat-nubuat PL itu.
Sebagaimana pernah dikatakan oleh seseorang: para nabi itu memberitakan firman ilahi yang begitu dalamnya dan kuatnya, sehingga itu tidak akan habis dengan satu kali digenapi. Inilah juga yang boleh kita kenakan kepada Wahyu Yohanes. Kalau kita membaca dalam Wahyu tentang pertikaian antara gereja dan kaisar Romawi, maka bolehlah kita perhatikan bahwa konflik ini berulang-ulang muncul kembali dalam sejarah; berulang-ulang ada dan timbul kuasa-kuasa yang mendewakan dirinya sendiri, dan mau membungkemkan gereja dengan kekerasan yang kasar. Demikianlah juga Kitab Wahyu adalah suatu nubuat yang tidak satu kali digenapi melainkan banyak kali.
Juga malapetaka-malapetaka yang dalam penglihatan-penglihatan Yohanes ditimpakan ke atas dunia, dapat muncul kembali berulang kali. Dalam arti inilah Kitab Wahyu merupakan suatu kitab yang berkenaan dengan sejarah dunia. Tetapi tentulah kita tidak boleh melihat Wahyu Yohanes sebagai suatu jadwal dari berbagai-bagai masa sejarah dunia yang berturut- turut yang dengan perantaraannya kita misalnya dapat mengatakan dalam masa mana kita berada dalam thn. 1973; atau yang dengannya malahan kita dapat mengetahui tahunnya hari kiamat.

3.      Siapakah penulis 'Wahyu Yohanes ?
Mengenai pertanyaan apa cara penafsiran yang tepat untuk Kitab Wahyu, kita berani menarik suatu kesimpulan (lihat yang tersebut di atas). Adalah sangat lain halnya dengan pertanyaan, siapa penulis Kitab Wahyu. Dalam hal ini adalah sulit sekali untuk mencapai suatu kesimpulan. Untunglah hal ini tidak begitu penting. Gereja Kristen percaya bahwa Alkitab, yang ke dalamnya termasuk Kitab Wahyu, adalah ditulis di bawah pimpinan Roh Kudus. Siapa-siapa persis orang-orang, yang dipergunakan oleh Roh Kudus sebagai alat dalam hal ini, tidaklah begitu penting. Untuk beberapa bagian Alkitab (seperti Surat kepada orang Ibrani) para ahli telah putus harapan sama sekali buat menetapkan penulisnya.
Bagaimanakah halnya dengan Kitab Wahyu? Kitab itu sendiri memberi sesuatu pegangan mengenai penulis: ia menyebut dirinya dengan nama Yohanes dalam 1:1, 4 dan 9 dan 22:8. Dalam 22:9 ia menggolongkan dirinya kepada para nabi, yaitu golongan orang-orang dalam gereja lama, yang secara khusus dipimpin oleh Roh Kudus, untuk menjelaskan kehendak dan maksud-maksud Allah (mengenai nabi-nabi ini dalam gereja lama, dapat dibaca dalam I Kor. 14: bnd. juga Kittel-Friedrich, Theological Dictionary of the New Testament, pada kata profétes). Jadi kitab itu ditulis oleh seorang nabi, Yohanes namanya. Tetapi apakah ini orang yang sama dengan Rasul Yohanes, anak Zebedeus? Bahwa namanya sama, itu sama sekali belum merupakan bukti bahwa orangnya sama, sebab nama Yohanes banyak terdapat pada orang-orang yang berketurunan Yahudi. Dalam PL nama itu terdapat dalam bentuk Ibraninya: Yohanan ( = Yahwe menunjukkan kasih sayang) pada kira-kira lima belas orang yang berbeda-beda, dalam PB dalam bentuk Yunani-nya: Yohanes, pada setidak-tidaknya lima orang yang berbeda- beda. Tetapi dalam gereja kuno pun sudah timbul suatu keberatan terhadapnya, yang oleh banyak ahli diambil-alih pada zaman modern ini: bahasa Injil Yohanes dan Wahyu Yohanes adalah begitu berlainan, sehingga hampir tidak dapat diterima bahwa kedua tulisan itu disusun oleh tangan yang sama. Injil Yohanes ditulis dalam bahasa Yunani yang baik, tetapi dalam Kitab Wahyu ada banyak sekali penyelewengan dari tata bahasa Yunani. Untuk menyebutkan suatu contoh saja bagi mereka yang tahu sedikit tentang bahasa Yunani: dalam kita baca dalam bahasa Yunani "apo Jesu Christu ho manus ho pistos"; dalam bahasa Yunani yang baik seharusnya kasus kedua dilanjutkan di sini dan kalimat itu berbunyi: "apo Jesou Chris- tou tou marturos tou pistou".
Dalam komentar yar terkenal itu atas Wahyu karangan R.H. Charles dapat ditemukan suatu ikhtisar yang luas tentang kesalahan- kesalahan tata bahasa yang dibuat oleh Kitab Wahyu terhadap bahasa Yunani. R.H. Charles (dan bersama-sama dengan dia sebagian besar dari para ahli abad kita ini) memberi keterangan tentang kesalahan-kesalahan ini sebagai berikut, yaitu bahwa penulis Kitab Wahyu, Oleh karena ia berasal dari bangsa Yahudi, berpikir dalam bahasa Ibrani (atau bahasa Aram), dan menerjemahkan pikiran-pikiran Ibrani ini ke dalam bahasa Yunani secara harfiah, tanpa memperhatikan aturan-aturan tata bahasa Yunani.
Jadi kelihatannya ialah bahwa Injil Yohanes, yang mengikuti sama sekali aturan-aturan tata bahasa Yunani, tak dapat tidak ditulis oleh seorang pengarang lain. Tetapi adalah juga mungkin bahwa baik Injil Yohanes maupun Wahyu Yohanes adalah dari tangan Rasul Yohanes, tetapi Injil Yohanes diolah oleh murid-muridnya sedemikian rupa, hingga pada akhirnya mendapat bahasa Y unani yang baik. Barangkali anggapan inilah yang paling menarik, yakni bahwa kalau Kitab Wahyu adalah langsung dari tangan Yohanes (sang rasul), maka Injil Yohanes secara tidak langsung.
Tidak ada buku di dunia, yang tentangnya begitu banyak buku ditulis, seperti Alkitab. Hanya untuk menyebutkan segala judul dari segala buku, yang membicarakan Wahyu Yohanes, akan menjadi suatu buku yang besar. Oleh sebab itu kami mau menyebutkan hanya beberapa tafsiran yang terkenal tentang Kitab Wahyu (yang juga dipergunakan sebagai alat pembantu dalam menyusun tafsiran kita ini). Kami mau membaginya dalam empat golongan: tafsiran-tafsiran Inggris, Jerman, Perancis dan Belanda.
a.       Tafsiran-tafsiran dalam bahasa Inggris Yang sangat terkenal ialah karya-karya R.H. Charles, A critical and exegetical Commentary on the Revelation of St. John, Edinburgh, 1920 (dalam dua jilid, dalam rangkaian International Critical Commentary) dan H.B. Swete, The Apocalypse of St. John, London 1909 (cetak ulangnya diterbitkan oleh Eerdmans, Grand Rapids).
Kedua tafsiran yang tersebut di atas adalah luas. Karya Swete lebih kaya daripada karya Charles dalam membicarakan isi kerohanian Wahyu Yohanes. Sebagai bahan perbandingan Charles mengutip banyak nas dari tulisan-tulisan apokaliptik Yahudi, yang menurut bentuknya mempunyai hubungan yang erat dengan Wahyu Yohanes.
Suatu sifat Charles ialah bahwa ia sangat pasti, kadang-kadang terlalu pasti, dalam pendapat-pendapatnya (misalnya mengenai murid Yohanes, yang menurut dia telah menerbitkan dan melengkapkan Kitab Wahyu).
Masih tetap berharga ialah tafsiran J. Moffatt dalam jilid kelima dari The Expositor's Greek Testament (London, 1917). la memberi banyak bahan dan kuat mengutip tulisan-tulisan rabi Yahudi sebagai bahan perbandingan. M. Kiddle menulis bagian tentang Wahyu dalam rangkaian "Moffatt N.T. Commentary" (M. Kiddle, The Revelation of St. John, Hodder and Stoughton, London, 1940). la menulis secara hidup dan menarik tanpa mempergunakan kata-kata Y unani (cara yang memang dipakai oleh ketiga tafsiran yang telah disebutkan lebih dahulu). la sangat menekankan hubungan Kitab Wahyu dengan keadaan-keadaan pada zaman Yohanes. Dengan pandangan-pandangan kerohaniannya (misalnya tentang nabi-nabi PL) kami tidak selalu dapat setuju.
M. Rist dalam jilid 12 dari Interpreter's Bible (New York, 1959) memberi banyak bahan yang berharga dalam bagian "exegesis", walaupun harus dipakai dengan hati-hati. b. Tafsiran-tafsi ran dalam bahasa Jerman Th. Zahn menulis suatu tafsiran yang luas (Offenbarung des Johannes, Leipzig-Erlangen, 1924-'25), kaya akan keterangan-keterangan ilmiah dan akan kutipan-kutipan dari tafsiran-tafsiran dari gereja kuno. Zahn mempertahankan ajaran Chiliasme (yang akan kita bicarakan pada tafsiran Wahyu 20).
W. Hadorn (Die Offenbarung des Johannes, Leipzig 1928) menulis suatu tafsiran dengan gaya-bahasa yang menarik, di mana ia menekankan bahwa Kitab Wahyu memperlihatkan garis-garis asasi dari sejarah dunia dan oleh sebab itu dapat dikenakan pada setiap masa.


b.      Tafsiran-rafsiran dalam bahasa Perancis
E.B. Allo menulis suatu tafsiran yang luas (Saint Jean, I 'Apocalypse, Paris, 1933) yang patut mendapat penghormatan karena ia memikirkan secara matang dan mendalam segala persoalan eksegese. Terkadang kesimpulan-kesimpulannya adalah memuaskan, dan terkadang tidak. Yang lebih baru ialah tafsiran Charles Brütsch, La Clarté de l'Apocalypse, Genéve, 1966 (cetakan yang kelima). Brütsch memberi suatu ikhtisar yang luas dan yang sangat berharga mengenai pendapat orang-orang lain tentang segala bagian Kitab Wahyu dan ia berhati-hati dalam menarik kesimpulannya sendiri. Brütsch kemudian menerbitkan bukunya dalam bentuk yang sedikit lain dalam bahasa Jerman juga.

c.       Tafsiran-tafsiran dalam bahasa Be landa
Dalam bahasa Belanda terkenal: Prof. Dr. S. Greydanus, De Openbaring des Heeren aan Johannes (Amsterdam, 1925) suatu buku yang sebagiannya sudah kolot; hal yang sama juga berlaku untuk buku J. Willemze, De Openbaring van Johannes, Groningen, 1924 (Seri "Tekst en Uitleg") Dalam seri "De prediking van het Nieuwe Testament" sudah terbit buku Dr. A.J. Visser, De Openbaring van Johannes (Nijkerk, 1965) Dr. Visser menulis secara hidup, dan memperlihatkan bahwa ia mengenal pembicaraan ilmiah sekitar Kitab Wahyu. Beberapa kali ia mengambil keputusan yang menyimpang dari kebanyakan penafsiran, misalnya kalau ia melihat pemerintahan Vespasianus (69-79) sebagai waktu, di mana Kitab Wahyu ditulis, dan ia melihat ke-144.000 orang dalam pasal 7 itu semata-mata sebagai orang-orang Kristen dari kalangan Yahudi.


Pasal I 
1:1-3 Judul 
 
(1)     Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi. Dan Oleh malaikat-Nya yang diutus-Nya, la telah menyatakannya kepada hamba-Nya Yohanes. 
(2)     Yohanes telah bersaksi tentang Firman Allah dan tentang kesaksian yang diberikan oleh Yesus Kristus, yaitu segala sesuatu yang telah dilihatnya. 
(3)     Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat. 
 
Dalam naskah-naskah Alkitab yang sangat tua (Sinaiticus, Codex Efraemi) sudah terdapat sebagai judul untuk seluruh kitab itu: Wahyu Yohanes (dalam bahasa Yunani: Apokalupsis Joannou). Judul ini diambil dari 1: l, yang merupakan judul asli kitab itu. 
Dalam ayat 1 kitab itu disebutkan Wahyu. Kata Yunani yang dipakai di sini ialah apokalupsis; ini diturunkan dari kata kerja apokalupto, membuka atau menyingkapkan, yakni kebalikan dari kata kalupto, menutupi. ltulah sebabnya "penyataan" adalah terjemahan yang sama baiknya seperti "wahyu". Apokalupsis dalam zaman Perjanjian Baru seringkali dipergunakan untuk penyataan rencana-rencana Allah yang tersembunyi (Rm. 16:25). 
Ayat 1 dan 2 adalah untuk memberitahukan nilai tinggi dari wahyu yang diberikan kepada Yohanes. Wahyu ini datang dari Allah sendiri dengan perantaraan yang mulia Yesus Kristus dan seorang malaikat. 1) Untuk menekankan kepastian penyataan yang diterima olehnya, maka Yohanes mempergunakan istilah-istilah yuridis: dalam penglihatan-penglihatan yang diterimanya Kristus memberi kesaksian, dan Yohanes pula menjadi saksinya. 
Selanjutnya penglihatan-penglihatan Yohanes itu disebutkan Firman Allah dalam ayat 2. Hal-hal yang telah dilihat oleh Yohanes itu harus segera terjadi, menurut ayat 1 dan 3. Mathias Rissi2) memang pada tempatnya memperingatkan, bahwa Yohanes tidak segera menantikan hari pengadilan yang terakhir. Buktinya bahwa Yohanes berbicara tentang zaman penghambatan yang masih akan datang, dan juga tentang kerajaan damai sejahtera yang seribu tahun, yang akan datang sebelum hari kiamat. Jadi perspektifnya atau jarak waktu pengharapannya tidaklah sangat singkat. Namun kini, dalam abad ke-20 ini, kita cenderung untuk mengatakan: perspektifnya adalah terlalu singkat, dan ia menantikan terlalu cepat hal-hal itu terjadi. Menantikan bahwa rencana-rencana Allah akan segera terjadi, kita temukan setiap kali pada nabi-nabi dalam Alkitab. Dalam arti yang dalam memanglah Yohanes dan para nabi itu berkata benar: Allah bekerja cepat menuju penggenapan pekerjaan-Nya. Ada gerak. Kita di Indonesia mengetahui betapa agama kafir adalah seakan-akan air yang tergenang.3) 
Siapa yang telah berkenalan dengan Allah Alkitab, mengetahui bahwa la adalah seorang Allah yang dengan kecepatan yang besar bekerja menuju tujuan-Nya yang terakhir. Hanya kecepatan Allah ini untuk perasaan manusia meliputi jarak-jarak waktu yang panjang. Dalam ayat I masih harus kita perhatikan bahwa istilah-istilah dikutip dari Perjanjian Lama. Dalam Dan. 2:29 kita baca: "Allah yang menyatakan hal-hal yang tersembunyi telah memberitahukan kepadamu apa yang akan terjadi", dan dalam Am. 3:7 kita baca: "Tuhan ALLAH tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi". Dalam Dan. 10:11 seorang malaikat berkata kepada Daniel: "aku diutus kepadamu". Semua ungkapan ini dikutip dalam Why. 1:1. Dalam Perjanjian Lama "hamba-hamba Allah" adalah suatu gelar untuk para nabi (Am. 3:7). Gelar ini dalam bagian terakhir dari ayat 1 dipergunakan untuk Yohanes sebagai nabi Perjanjian Baru. Adalah mungkin bahwa yang dimaksudkan dengan semua hamba-hamba Allah pada permulaan ayat 1 itu ialah nabi-nabi Perjanjian Baru. 
Tetapi ada kemungkinan yang lebih besar bahwa itu di sini ialah untuk menyebutkan semua orang yang menyembah Allah. Oleh karena menurut ayat 1 dan 2, Kitab Wahyu adalah begitu berharga, maka dalam ayat tiga disebutkan berbahagia orang yang membacakannya untuk didengarkan oleh anggota-anggota jemaat. Juga disebutkan berbahagia mereka yang mendengarkan dan me- melihara isi kitab itu. Tujuh kali terdapat "makarismus" semacam itu (berbahagialah dia .....) dalam Why. 1:3; 14:13; 16:15; 19:9; 20:6; Jadi bilangan kudus 7, yang begitu sering dipakai dalam Wahyu, kita temukan iuga di sini. 
Ayat 4-6. Kalau kita membandingkan dengan 22:21, maka ternyatalah bahwa Kitab Wahyu aslinya dikirimkan sebagai suatu surat edaran kepada tujuh jemaat Kristen di Asia-Kecil. Ayat 4 adalah sama dengan permulaan surat-surat Paulus: si pengirim disebutkan, kemudian kepada siapa dialamatkan; selanjutnya menyusul ucapan selamat. Inilah cara biasa dalam dunia Helenistis untuk memulai suatu surat. 
Yohanes menyebut dirinya sendiri secara singkat sekali, tanpa sesuatu penjelasan. ltu menunjukkan bahwa ia sangat terkenal kepada ketujuh jemaat itu. Dalam bahasa Yunani terdapat: kepada ketujuh jemaat di Asia. Tetapi itu berarti propinsi Romawi "Asia", yang meliputi bagian barat Asia-Kecil. 
Di propinsi Asia ada lebih banyak jemaat Kristen daripada ketujuh buah yang disebutkan dalam 1:11; ingat misalnya kepada Troas dan Kolose. Tetapi dalam Kitab Wahyu hanya dipilih tujuh. Angka tujuh berkali-kali muncul dalam Wahyu sebagai bilangan yang suci. Angka tiga dalam Wahyu ialah angka Allah, angka empat bilangan dunia; boleh jadi dalam Wahyu angka tujuh (tiga tambah empat) adalah perlambang "karya yang sempurna dari Allah di dunia" Mengapa justru dipilih ketujuh jernaat yang disebutkan dalam ayat 11 itu? Alasan-alasannya dalam zaman kita ini adalah sukar untuk menyelidikinya lebih lanjut. Adalah hampir pasti bahwa dari semula maksudnya ialah bahwa Kitab Wahyu dibaca juga di luar ketujuh jemaat itu. Mereka hanyalah merupakan wakil-wakil semua jemaat di sebelah barat Asia-Kecil. 
Yohanes mengharapkan supaya ketujuh jemaat itu disertai kasih-karunia dan damai sejahtera dari Allah. Allah tidak disebutkan dengan nama-Nya, tetapi dijelaskanS) dengan suatu rumusan rangkap tiga: yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang. Tulisan-tulisan kaum rabi Yahudi mempergunakan untuk Allah sebutan "yang ada dan yang sudah ada dan yang akan ada". Orang-orang kafir mempergunakan ungkapan yang sama untuk dewa-dewa mereka dalam zaman Yohanes. Yohanes mengganti "yang akan ada" dengan 'yang akan datang", berhubung dengan tekanan yang diletakkan Wahyu atas kedatangan Kristus kembali. Ada kemungkinan besar bahwa Yohanes mengingat juga pada Kel. 3:14. 
Selanjutnya disebutkan ketujuh roh yang ada di hadapan takhta Tuhan. Menurut beberapa penafsir, ini adalah ketujuh malaikat yang tertinggi sebagai "yang mewakili" Allah, sebagai pelaksana karya Allah; kami lebih suka mengikuti penafsir-penafsir lain yang melihat Roh Kudus di dalamnya, yang disebutkan "ketujuh roh" oleh karena kayanya dan penuhnya karya-Nya. Mungkin Yohanes di sini dipengaruhi oleh Za. 4:10, di mana pemeliharaan Allah, yang sebenarnya hanya satu, disebutkan "ketujuh mata". 
Kemudian diharapkan juga berkat Kristus atas jemaat-jemaat itu. Kepada nama Yesus Kristus itu ditambahkan tiga gelar, yang tepat mengikuti riwayat Kristus dari sengsara-Nya sampai kepada kenaikan-Nya ke sorga. Pertama-tama disebutkan Kristus sebagai Saksi yang setia. la adalah Saksi oleh karena la selama hidup-Nya di dunia memberi kesaksian tentang amanat Ilahi. Kesetiaan-Nya terbukti dalam hal bahwa la tidak menarik kembali kesaksian-Nya itu ketika hal itu mau menyebabkan kematian-Nya. Kedua, la disebutkan yang pertama bangkit dari antara orang mati. Sebelum Kristus memang ada orang-orang yang bangkit dari antara orang mati, tetapi mereka ini harus mati lagi. Kristus adalah orang pertama yang bangkit dari dalam kubur kepada suatu kehidupan yang tidak akan berakhir lagi dan dengan itu la menjadi pelopor untuk kebangkitan orang-orang percaya. Ketiga, la disebutkan yang berkuasa atas raja-raja bumi, oleh karena di waktu kenaikan-Nya ke sorga la mendapat tempat di sebelah kanan Allah, dan dengan demikian ikut-serta dalam kekuasaan Allah atas bumi. Kumpulan orang Kristen yang kecil pada zaman Yohanes mendengar berkumandang puji-pujian kepada kaisar Romawi, tetapi mereka percaya dengan penuh kegembiraan bahwa Kristus adalah lebih tinggi dan lebih berkuasa daripada orang-orang yang paling berkuasa di bumi. 
Adalah menarik sekali bahwa kata-kata yang dipilih untuk ketiga gelar Kristus itu diambil dari Mzm. 89:28 dan 38 (walaupun kata-kata itu di sana mempunyai arti yang agak lain). Inilah suatu tanda bahwa Yohanes selalu mempergunakan Perjanjian Lama. Karena Kristus sudah disebutkan, maka puji-pujian kepada-Nya dilanjutkan dalam ayat 5 dan 6. Kristus disebutkan: yang mengasihi kita. Bukan: yang pernah mengasihi kita, tetapi syukurlah, yang terus-menerus mengasihi kita dengan suatu cinta kasih yang selalu tetap sama. Dari cinta kasih itulah timbul karya penyelamatan-Nya. 
Yohanes mengatakan: la telah melepaskan6) kita (yakni orang-orang yang percaya kepada-Nya dengan tulus) Oleh darah-Nya. Ungkapan-ungkapan yang hampir sama dengan itu terdapat juga di tempat-tempat lain dalam Perjanjian Baru (misalnya Ef. 1:7); tetapi barangkali Yohanes mengingat nas-nas dari Perjanjian Lama: Mazmur 130:8 dan anak domba Paskah, yang darahnya melepaskan orang Israel di Mesir (Kei. 12:21-23) Orang-orang Yahudi dari zaman Perjanjian Baru mengharapkan bahwa Allah akan mengulangi perbuatan-Nya, yaitu melepaskan orang Israel seperti pada waktu Keluaran, pada akhir zaman. Yohanes (sama seperti pengarang-pengarang Perjanjian Baru lainnya) percaya bahwa Allah telah mengulangi perbuatan penyelamatan-Nya yang dahulu itu; sudah ada tampil anak domba Paskah yang baru dan yang lebih tinggi, yaitu Kristus, yang dengan darah-Nya melepaskan gereja dari kebinasaan dan hukuman Allah. Dan sama seperti Israel, sesudah dilepaskan dari Mesir, dibuat menjadi suatu yang terdiri dari para imam" (Kel. 19:6), demikianlah gereja, menurut Why. 1:6, dibuat Kristus menjadi suatu "kerajaan", menjadi imam- imam" 
Dengan "kerajaan" (bahasa Yunaninya basileia) memang dimaksudkan di sini lebih daripada bahwa gereja adalah kerajaan Allah; dengan membandingkannya dengan Why. 5:10 kita mendapat kesan bahwa yang dimaksudkan Yohanes dengan "kerajaan" ialah bahwa orang Kristen boleh ikut-serta dalam karya rajani Kristus dan ikut memerintah bersama-sama Dia. Dalam hal ini Yohanes menujukan pandangannya ke masa depan, sebagaimana ternyata dari Why. 5:10, di mana kita baca: "mereka akan memerintah sebagai raja di bumi". l) Dalam zaman penghambatan di waktu kekaisaran Romawi belum nyata martabat rajani gereja. 
Berlainan halnya dengan keimaman. Definisi imam ialah: seseorang yang boleh mendekat kepada Allah dan yang boleh melayani Allah. Kemungkinan untuk mendekat kepada Allah hanya dapat kita peroleh melalui pengorbanan Kristus yang membuat perdamaian di antara Allah dan kita. Oleh sebab itu, begitu tepat terdapat dalam ayat 6, bahwa Kristus membuat kita menjadi imam-imam bagi Allah. 
Dalam tulisan-tulisan kaum rabi kita melihat bahwa orang-orang Yahudi yang hidup kira-kira pada zaman yang sama dengan Yohanes, mau mengakui bahwa oleh ketaksetiaan mereka (karena menyembah anak lembu emas) mereka telah kehilangan martabat keimaman yang dikatakan oleh Kel. 19:6. Tetapi mereka berharap, bahwa dalam zaman Mesias martabat keimaman itu akan kembali lagi kepada Israel (berdasarkan Yes. 61:6). Yohanes memberitakan (dengan menyindir kepada orang-orang Yahudi yang tidak percaya itu) bahwa Mesias sudah datang, dan telah memperoleh martabat keimaman bagi mereka yang percaya kepada-Nya. 
Ayat 7-8. Yohanes menyebutkan banyak hal tentang Kristus dalam ayat 5 dan 6, tetapi satu hal belum, yakni kedatangan-Nya kembali. Itulah yang disebutkan-Nya sekarang. la akan datang kelak dengan awan-awan (bnd. Dan. 7:13 dan Mrk. 14:62). Maka semua orang yang tidak percaya kepada-Nya akan menginsafi betapa jahatnya mereka memperlakukan Dia, dan akan meratapi Dia. 
Yohanes mengutip lagi di sini, menurut kebiasaannya, suatu nas Perjanjian Lama: Za. 12:10. Yang dimaksudkan dengan "mereka yang telah menikam Dia" ialah barangkali orang-orang Yahudi yang telah menyalibkan Dia. Nubuat tentang kedatangan Kristus kembali ada diteguhkan dua kali pada akhir ayat 7, yaitu dengan suatu kata Yunani dan satu kata Ibrani. Dengan memperbandingkannya dengan Why. 22:20 kita lihat bahwa "ya" menyatakan kepastian janji-janji ilahi, dan "amin" penyambutan janji-janji itu secara beriman oleh jemaat. 
Pada akhir pembuka Wahyu itu terdapat beberapa nama kehormatan untuk Allah sendiri (sebagaimana seringkali terdapat dalam kitab-kitab para nabi Perjanjian Lama, misalnya Yes. 43:1 1 dan 15). Allah menyebutkan diri-Nya "Yang Awal dan Yang Akhir". Sebenarnya ada tertulis: Alfa dan Omega, huruf pertama dan huruf terakhir dari abjad Yunani. Maksudnya ialah bahwa Allah adalah Pencipta dan Penggenap segala-galanya. Juga di sini boleh kita melihat lagi hubungan antara Wahyu dan suatu nas Perjanjian Lama, yakni Yes. 44:6. 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

No comments:

Post a Comment

Official Virgozta